BAGIKANBUNDA - Pohon Kina yang mempunyai nama ilmiah Cinchona Calisaya ini, merupakan pohon yang sudah langka.
Biasanya, Pohon Kina ini bisa ditemukan di hutan hujan tropis, salah satunya adalah Indonesia.Di Indonesia masih banyak pohon kina yang ditanam.
Pohon Kina yang menjadi ciri khas Kabupaten Bandung ini ternyata bisa jadi obat virus corona yang akhir-akhir ini bikin seluruh penduduk dunia ketakutan.
Potensi tersebut ditemukan setelah diadakan penelitian oleh berbagai ilmuwan, yang mana Pohon Kina positif mengandung Chloroquine Phosphate yang dipercaya sebagai penangkal virus corona secara alamiah.
Chloroquine Phosphate juga merupakan obat sintetis untuk mengobati malaria, sementara obat alami untuk malaria terkandung dalam pohon Kina.
Perlu diketahui, Pohon Kina sendiri merupakan pohon khas Kabupaten Bandung, bahkan daunnya terdapat dalam logo Kabupaten Bandung. Dengan adanya temuan Chloroquine Phosphate sebagai obat malaria sintetis, memungkinkan kandungan yang terdapat dalam kina bisa menjadi obat alami virus Corona.
“Kalau di dalam sintetisnya terdapat kandungan anti virus corona, tentu senyawa dalam kina bisa saja memiliki aktivitas yang sama,” tutur Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina Gamboeng, Dadan Rohdiana, Senin (24/2/2020).
Hal yang perlu dilakukan kata Dadan adalah melakukan penelitian terkait struktur senyawa Chloroquine Phosphate denyan senyawa Kina.
“Tinggal dilihat strukturnya ada tidak di kina, kalau mirip, dipastikan aktivitasnya sama dan bisa menjadi obat virus corona,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil langsung meminta berbagai perguruan tinggi bersama akademisi di Jawa Barat agar membuat kajian dan penelitian tentang manfaat klorokuin fosfat yang berbahan dasar dari Pohon kina sekaligus segera diracik menjadi obat penangkal virus corona.
Dorongan ini muncul setelah pihaknya mendapatkan informasi yang beredar, bahwa pohon kina asal Jawa Barat memiliki kandungan yang sama dengan klorokuin yang menurut hasil riset di China sudah berhasil menyembuhkan 100 pasien corona di Wuhan.
“Saya mendengar kabar baik ini kalau bahan untuk obat corona itu ada di Indonesia, tepatnya di Jawa Barat, saya akan lihat, sudah sejauh mana,” katanya di Bandung, Rabu (11/3/2020) malam.
Sementara itu, Guru Besar Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Padjadjaran (Unpad) Keri Lestari mengatakan, sedianya klorokuin sudah sejak lama digunakan untuk mengobati malaria.
“Klorokuin itu berdasarkan hasil riset di Cina, di Wuhan dengan klorokuin menunjukan adanya perbaikan,” katanya saat dihubungi, Rabu (11/3/2020).
Keri mengatakan pada 17 Februari 2020 lalu, dalam uji klinis multicenter yang dilakukan di China, telah membuktikan klorokuin fosfat telah menunjukkan aktivitas yang nyata dengan tingkat keamanan yang dapat diterima untuk mengobati pneumonia yang diakibatkan Covid-19.
“Ini biasa digunakan untuk anti malaria, bisa juga untuk lupus. Dia punya potensi aktifitas anti virus spectrum luas, ini diteliti di China sejak 2013. Aktivitas anti-virus dan anti-inflamasi klorokuin dapat menjelaskan khasiatnya dalam menangani pasien dengan pneumonia Covid-19,” katanya.
“Klorokuin adalah obat yang murah dan aman yang telah digunakan selama lebih dari 70 tahun. Mengingat tuntutan klinis yang mendesak, klorokuin fosfat direkomendasikan untuk mengobati pneumonia terkait virus corona pada populasi yang lebih besar di masa depan,” imbuhnya.
Menurutnya, obat sintetis klorokuin ini bisa diproduksi oleh PT Kimia Farma yang mengelola perkebunan pohon kina di Jabar.
“Kalau mau dikembangkan kembali sangat bisa. Kimia Farma mempertimbangkan untuk memproduksi kembali,” pungkasnya.
